Perkembangan Penyidikan “Dimas Kanjeng” Libatkan Tersangka “Vijai” Kasus Penipuan

Tribratanewsjatim.com: Kedok Taat Pribadi “Dimas Kanjeng” sebagai otak dugaan penipuan dengan modus penggandaan uang kian kuat. SP Maranata alias Vijay asal Jakarta yang diperiksa penyidik Ditreskrimum Polda Jatim ngoceh, jika dirinya ditugasi menyeting acara di Jakarta dan mencari maha guru.

18-kabid-okKabid Humas Polda Jatim Kombes RP Argo Yuwono mengatakan, banyak pengakuan berharga dari pria keturunan India yang ditangkap, Selasa (1/11/2016) malam di Jakarta. Di antaranya, pertemuan di Hotel Merlynn Park pada 14-10 Maret 2016 lalu, merupakan setingan pemilik Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. “Acara itu diseting oleh Taat dan Vijay disuruh mencari lokasi,” kata Kombes Argo, Jumat (4/11/2016).

Dalam pertemuan di hotel yang dihadiri para pengikut Taat, lanjut Vijay menyeting seolah-olah acara itu dihadiri pihak bank yang diakui sudah kerja sama. Padahal orang yang diberi seragam bank dan hadir dihadapan masyarakat hanya orang biasa.

Peran Vijay yang lain adalah mencari 7 orang yang diangkat sebagai maha guru oleh pemilik Padepokan di Dusun Sumber Cengkelek Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Padahal 7 orang yang kini dalam pencarian polisi itu tidak mengerti apa-apa.

“Yang sering disebut Taat adalah Abah Dofir dan Abah Abdurahman. Tapi semua identitas orang yang diangkat sebagai maha guru oleh Taat sudah dikantongi penyidik,” paparnya.

Pengangkatan tujuh orang sebagai maha guru hanya untuk mengangkat atau mengagungkan nama Taat di depan pengikutnya. Penyidik juga tengah mencari orang yang disebut Abah Gimbal yang katanya berusia 600 tahun lebih dan tugasnya sebagai penunggu 9 gudang gaib.

“Pokoknya segala orang yang berkaitan dengan Taat akan kami periksa. Melihat dari perkembangan yang ada, tujuan Taat bukan untuk memaslahatkan umat,” tandasnya.

Dalam penyidikan sementara, tersangka Vijay mengaku kerap menerima uang dari Taat lewat Suryono dan Karimullah. Jumlah uang awalnya yang diakui Rp 2 miliar ternyata lebih. Namun, berapa jumlah pastinya, Kombes Argo enggan berkomentar.

“Yang jelas sering dan lebih dari Rp 2 miliar. Itu terus dikembangkan penyidik kemana larinya uang,” terangnya.

Menurut Kombes Argo, perkenalan Vijay dengan Taat awalnya hanya kenal biasa di Jakarta. Karena kerap komunikasi, Vijay akhirya diajak kerja sama. Apalagi Vijay yang ditetapkan sebagai tersangka bekerja di bidang konstruksi di kawasan Serang. Lantas perusahaan tempat tersangka Vijay bekerja dicatut dan Taat Pribadi sebagai komisaris utama.

“Perusahaan emas batangan yang diakui Taat itu nggak ada. Hanya kamuflase dengan tujuan agar masyarakat percaya pada Taat,” tegasnya.

Seperti diketahui, sesuai keterangan Suryono kepada penyidik, untuk mengirim uang ke Vijay terkadang transfer bank atau langsung. Kapan saja waktunya, penyidik masih menyelidiki dengan pihak bank terkait untuk menguak berapa jumlah pastinya uang yang ada.
“Jadi penyidik terus melacak kemana uang yang digalang dari masyarakat,” terangnya.
Penyidik juga mendalami pertemuan di Hotel Merlynn Park Jakarta pada 14 sampai 19 Maret 2016 lalu. Vijay telah membooking 155 kamar untuk pertemuan membahas emas batangan. (mbah)