Pelaku Pencurian Dibawa Umur Dilakukan Diversi

Tribratanewsjatim.com: Polisi akhirnya melakukan diversi terhadap pelaku pencurian di toko gorden Kelurahan Bangsal, Kecamatan Pesantren. Pasalnya, yang terlibat dalam kasus ini masih anak-anak berusia 12 tahun. Pelaku berinisial SP, asal Kecamatan Pesantren, dan DN dari Kecamatan Gurah, Kediri, Jawa Timur.

9-kediriDengan penerapan sistem diversi itu, maka penyelesaian perkaranya tidak dilakukan di peradilan pidana. Namun, dialihkan ke proses di luar peradilan pidana. Meski begitu, SP dan DN diharuskan melakukan wajib lapor selama seminggu dua kali.

Kapolsek Pesantren Kompol Sucipto menerangkan, memang melakukan diversi. Dia berusaha mendatangkan orang tua SP dan DN. Ini agar dua pencuri cilik tersebut bisa diperbaiki psikologisnya. Mereka juga tidak trauma. Karena itu, kedua anak bau kencur ini tidak ditahan.

Namun mereka wajib lapor seminggu dua kali, yaitu pada Senin dan Kamis. “Kami lakukan diversi pada keduanya, hal ini untuk kebaikan perkembangan psikologis anak-anak ini juga,” tuturnya.

Sucipto mengaku, juga telah bermusyawarah dengan korban, Arifin, 26, warga Bangsal, Pesantren. Hanya saja, ketika orang tua (ortu) kedua anak itu diundang ke mapolsek, hanya ortu DN yang datang. Petugas kemudian memberi peringatan dan pengarahan agar menjaga anaknya dengan baik.

Tak hanya itu, ortu DN juga diharapkan mendampingi saat anaknya laporan  ke polisi setiap minggunya. “Malam itu (6/11/2016) kami beri pengarahan pada orang tua pelaku,” ujar perwira berpangkat melati satu ini.

Terkait ortu SP yang tidak hadir Minggu malam lalu (6/11/2016), Sucipto mengatakan, telah berusaha mencari keberadaannya. Namun SP sejak awal ditangkap selalu berkilah saat ditanya keberadaan orang tuanya. Jawabannya selalu berubah-ubah. Mulai dari mengaku beralamat di Kelurahan Banaran, lalu berubah di Desa Paron, Ngasem. Saat diantar ke sana ternyata fiktif. “Akhirnya dia mengaku orang tuanya di Medan. Karena dia berasal dari Medan,” terang Sucipto.

Karena tidak menunjukkan identitas ortunya maupun nomor telepon yang bisa dihubungi, malam itu SP langsung dititipkan ke Dinas Sosial (Dinsos) Kota Kediri. Walaupun begitu dia tetap wajib lapor. Diduga SP sudah ada di Kota Kediri selama seminggu. Namun asal muasalnya di Kediri masih dalam penyelidikan polisi. Karena sejak awal SP tidak berterus terang.

Dari pengakuan penjaga warnet yang meminjami keduanya sepeda motor, SP dan DN bertemu sekitar seminggu lalu saat bermain game di warnet dekat Simpang Lima Gumul (SLG). “Sering pinjam motor ke saya, alasannya ya untuk pulang ambil uang,” terang penjaga warnet yang enggan namanya disebutkan.

Minggu siang lalu, dia baru mengetahui, motornya digunakan melakukan pencurian. Itu setelah SP dan DN dipergoki mencuri tas ikat pinggang di toko gorden di Jl Letjend Sutoyo, Kelurahan Bangsal.

Keduanya ditangkap sekitar pukul 13.00 oleh Arifin (27) pemilik tas, setelah mengetahui tas pinggangnya yang berisi uang tunai Rp 40 ribu dan dua HP raib. “Setelah motor saya dibawa, ya memang membawa uang banyak. Tak jarang mereka juga membawa rokok,” ungkap penjaga warnet itu.

Dari pemeriksaan polisi, SP dan DN tak hanya melakukan pencurian pada Arifin. Ternyata kedua bocah itu juga mencuri rokok di toko sekitar Kelurahan Pesantren. Tak jauh dari situ mereka juga pernah mencuri celengan di depo pengisian air isi ulang dan terakhir mencuri sebuah dompet. (mbah)